Alpha Fabela, Menggagas Laweyan Jadi Kampung wisata Batik

oleh
ALPHA-FABELA

Bernama lengkap Alpha Fabela Priyamono, pria kelahiran Yogyakarta 16 Februari 1960 ini sebenarnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia batik. Ayahnya, Yatmono Hadiyahmanto, adalah seorang pegawai negeri, sedangkan ibunya, Soenarni, seorang penjahit pernik-pernik untuk kado.

Sejak kecil Alpha Fabela sudah jatuh cinta dengan batik. Mulai menetap di kampung Laweyan sejak tahun 1985 karena cintanya pada batik dan juga menikah dengan Juliani Prasetyaningrum. Seorang putri saudagar batik di Laweyan.

Bisa berada dan tinggal di lingkungan batik, membuat Alpha Fabela semakin bersemangat menggeluti dunia batik. Bukan sekadar menghidupkan kembali usaha batik milik mertuanya yang tutup, Mahkota Laweyan. Ia menggagas kampung Laweyan sebagai kampung wisata batik pada tahun 2003 lalu.

Ide Kampung Batik

Rancangan Kampung Batik Laweyan pada awalnya merupakan hasil riset dan rancangan desain ulang Laweyan sebagai kawasan batik. Ini adalah hasil tesisnnya di program pascasarjana Desain Kawasan Binaan Jurusan Arsitektur UGM. Hasil rancangannya itulah yang kini menjadi acuan penataan Kampung Batik Laweyan.

”Setelah penelitian itu, saya semakin yakin Laweyan pantas dikembangkan sebagai heritage. Di Laweyan orang tidak hanya belanja batik, tetapi juga menikmati kekhasan arsitektur bangunan dam mengenal sejarah batik,” ujar dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Dengan konsep kampung Laweyan sebagai kampung wisata batik, pada tahun 2004 Pemkot Surakarta akhirnya turut ambil bagian dalam merealisasi gagasannya. Bentuk dukungan nyata pemerintah saat itu diantaranya dengan mematenkan 215 motif batik dari Laweyan.

Sebagai seorang arsitek, pada saat itu Alpha Fabela bersama beberapa pengusaha di Laweyan mulai menata kampungnya. Ia bersama warga mendirikan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL). Sebuah forum pemberdayaan warga Laweyan. Lewat forum inilah warga Laweyan mengembangkan pariwisata berbasis industri batik dan nonbatik, seperti sejarah, bangunan, dan tradisi yang hidup kawasan ini.

Melalui FPKBL, Alpha Fabela secara konsisten mengembangkan dunia batik, bukan hanya memproduksi tetapi juga melestarikan heritage yang ada di Laweyan. Ia merancang pengadaan modal bagi para pengusaha yang ingin bangkit, menangani promosi, membuka kerja sama dengan biro perjalanan wisata hingga upaya pelestarian kawasan, terutama konservasi bangunan-bangunan kuno, sampai pengolahan limbah.

Kini, Alpha Fabela yang juga merupakan salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya Walikota Surakarta ini bisa bernapas lega. Sejak enam tahun terakhir, Kampung Batik Laweyan kembali berdenyut. Kawasan seluas 24 ha ini telah menjadi kampung batik terpadu: tradisi membatik, heritage dan wisata belanja. (GNA)

Baca Juga : Mengenal Batik Indonesia Rancangan Go Tik Swan

Tentang Penulis: Joko Narimo

Gambar Gravatar
Blogger kambuhan yang juga aktif mengelola perpustakaan Tumpi Readhouse, pernah sekolah seni dan desain, kadang menjadi pegiat fotografi dan film komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.