kewirausahaan, pendidikan, pernikahan, ibu hamil, teknologi informasi>

Sekilas Tentang Wayang Kulit Purwa Gagrak Pakualaman

Sekilas Tentang Wayang Kulit Purwa Gagrak Pakualaman
Wayang kulit/britannica.com

Wayang kulit gagrak Pakualaman merupakan wayang gaya Yogyakarta yang mengenakan keris. Wayang kulit ini menjadi ciri khas wayang wilayah keraton Pakualaman. Seperti wayang kulit pada umumnya, Wayang Pakualaman  memiliki kualitas kulit, tatahan, dan sunggingan yang baik. Namun  gagarak wayang kulit ini kurang disosialisasikan ke tengah masyarakat, sehingga perkembangan wayang ini  terhambat. Saat ini wayang kulit khas Pakualaman sangat sulit ditemukan .

Di Surakarta, pada waktu ini terdapat keris yang bernama Cundhamani, yang di dalam dunia pewayangan dikenal sebagai encis pusaka Pandhita Dorna. Keris dhapur Kalarnisani yang merupakan copy atau putran dari keris Kanjeng Kyai Kalamisani -sebuah keris lurus dengan hiasan kembang-kacang, sogokan muka dan belakang, lambe gajah dua, sraweyan, greneng dan lain sebagainya.

Konon, Kanjeng Kyai Kalamisani yang asli adalah kepunyaan Raden Sadewa yang kemudian diberikan kepada Raden Gatotkaca. Arjuna, selain dikenal sebagai pemilik Pasopati, juga mempunyai keris-keris Kyai Pulanggeni dan Kyai Kalanadhah.

Lantas bagaimana riwayat munculnya wayang kulit gagrak Palualaman ini?

Masa awal pemerintahan Pakubuwono III ditandai dengan perpindahan keraton dari  Kartasura ke Surakarta. Perpindahan ini sekaligus merupakan masa peralihan wayang kulit dari gaya Mataraman ke jaman Surakartan. Perubahan ini salah satunya terlihat dengan diubahnya bentuk kera dan raksasa sehingga hanya bermata satu. Selain itu wayang gaya Surakarta juga di peramping sehingga memudahkan dalang dalam melakukan sabet atau olah wayang.

Perjanjian Giyanti

Pada masa pemerintahan Pakubuono IV, terjadi perselisihan antara golongan tua dan muda. Golongan tua yang dipimpin  Pangeran Mangkubumi menyatakan perlawanannya terhadap Pakubuwono IV yang bekerjasama dan mengakui kedaulatan pemerintahan Belanda atas kerajaan Mataram. Perselisihan yang berkepanjangan ini berakhir dengan Perjanjian Giyanti (1755).

Perjanjian Giyanti inilah yang kemudian memecah Mataram menjadi dua; Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkubumi lalu menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sebagai golongan tua, kemudian Mangkubumi mengembangkan wayang kulit gaya Mataraman. Sementara Pakubuwono IV mengembangkan wayang kulit gaya Surakarta atau sekarang lebih tenar dengan gagrak Solo.

Selanjutnya, Kasunanan Surakarta kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Oleh Mangkunegara I, raja Mangkuneran pertama, wayang gaya Solo diperbesar. Wayang kulit gaya Yogyakarta pun lalu terjadi perubahan dengan adanya gaya baru, yaitu wayang Pakualaman yang masih mempertahankan bentuk gaya Mataram namun kebanyakan wayangnya menggunakan keris.

Perjanjian Giyanti memang bukan sekadar memecah kerajaan, tapi juga kesenian keraton (wayang kulit). Sampai sekarang dalam dunia wayang kita kenal ada dua gagrak ( gaya ) yang menjadi barometer bagi para dalang, yaitu gagrak Surakarta dan gagrak Yogyakarta, walaupun di daerah lain juga mempunyai ciri sendiri misalnya gaya Pesisiran , gaya Jawa Timuran, gaya Banyumasan dan lainnya.

Pembagian kekuasaan selepas perjanjian Giyanti ditandatangani, selain mengharuskan adanya pembedaan sistem pemerintahan ternyata juga mewajibkan para pujangga dari 2 kraton tadi untuk saling berlomba memberikan ciri yang berbeda dalam mereka hanya ingin tampil beda.

Pengaruh Gagrak Wayang Kulit

Sekilas Tentang Wayang Kulit Purwa Gagrak Pakualaman
Pentas wayang kulit di Keraton Kasultanan Yogyakarta/wonderfulindonesia

Dalam sejarah pewayangan sendiri sebelum dipecahnya kerajaan Mataram, semua dalang di tanah jawa mengacu pada gaya Ki Panjangmas yang menggunakan Pakem Mataraman. Pakem Mataraman ini disebut-sebut sebagai Pakem wayang yang masih menyajikan wayang kulit asli seperti pada jaman para wali. Namun setelah Giyanti masing2 Kraton, baik Yogya maupun Surakarta menggunakan pakem yang berbeda.  Surakarta menggunakan pakem yang bersumber dari Serat Pustaka Raja Purwa, sedangkan Jogja menggunakan pakem dari Serat Purwakandha karangan Sultan Hamengku Buwono V.

Apalagi setelah di Jogja didirikan Habirandha (Hanindakaken Biwara Rancangan Dalang) oleh Sultan Hamengkubuwono VIII pada 27 Juli 1925. Habirandha ini berfungsi selain sebagai tempat sekolah pedalangan juga yang meracik dan menata kembali tatacara pementasan wayang gaya Yogyakarta. Barangkali agar  lebih enak ditonton dan menggugah selera.

Namun ternyata didunia perwayang kesulitan juga mengenal trend layaknya dalam dunia musik masa kini. Karena dianggap terlalu lambat temponya, bentuk wayang yang kurang dinamis, kurang inovatif dan lain-lain, dalam perkembangannya gagrak Yogyakarta kurang diminati.

Hal ini bisa dilihat dari statistik daerah-daerah di Jawa tengah dan Jawa Timur ternyata yang terpengaruh oleh gagrak Jogja lebih sedikit, hanya tersebar di daerah sekitar Jogja saja seperti Magelang, dan Purworejo. Sedangkan gagrak Surakarta mampu menyebar dan dianut oleh dalang-dalang yang bukan hanya dari daerah Surakarta sendiri bahkan menyebar hingga ke Jawa timur dan daerah-daerah pesisir barat Jawa Tengah .

Mengikuti Perkembangan Zaman

Memang dalam kenyataannya gagrak Surakarta lebih mampu mengikuti perubahan jaman dengan mengadakan inovasi-inovasi dalam setiap pertunjukannya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa inovasi seperti, masuknya musik dangdut, khasidah dan campur sari hingga rock dalam setiap pertunjukan wayang kulit oleh beberapa dalang penganut gagrak Surakarta.

Gagrak atau gaya pewayangan itu bukan semata-mata soal keris, tapi meliputi keseluruhan dari semua yang ada dalam pementasan wayang, mulai dari musiknya, isi crita, cara menembangkan lagu (cengkok), bentuk wayang hingga bentuk gamelan dan lain-lain, intinya tentang bagaimana penyajian wayang dalam pementasannya.

Mungkin untuk membedakan antara gagrak Jogja dan gagrak Surakarta memang agak susah, diperlukan pengalaman dan pengetahuan, tapi untuk lebih singkatnya lagi gagrak Jogja itu lebih menampilkan wayang kulit secara klasik dan minim improvisasi, sedangkan untuk Surakarta terkesan lebih dinamis dan mungkin kontemporer .(*)

Indonesia Kuat – Kang Jais (Official Video Music)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*