Menyesal Setelah Menghukum Anak? Ini Cara Agar Anak Disiplin

oleh
menghukum anak 2

Kadangkala orang tua tidak mampu menahan emosi menghadapi kenakalan sikecil. Emosi sesaat seringkali menjadi alasan untuk menghukum anak. Apa yang didapat? yang didapat justru penyesalan.

Hati seorang ibu yang lembut pasti merasa bersalah pada anak.

Anak – anak adalah anak-anak.

Kadang lucu dan menggemaskan, kadang menguji kesabaran kita sebagai orang tua dengan berbagai kenakalan dan keusilannya.

Tatkala anak berbuat kesalahan, beberapa orang tua seringkali mengambil sikap yang berbeda.

Tipe orang tua yang bagaimanakan anda?

Langsung memarahinya atau membiarkannya karena khawatir anak – anak membenci anda?

Bagaimana Cara Menghukum Anak Yang Benar?

Mendidik anak melibatkan penggunaan metode pembinaan dan penghukuman yang efektif.

Penting untuk diingat bahwa tujuan penghukuman adalah untuk mengajarkan anak tentang konsekuensi dari perilaku mereka dan membantu mereka belajar mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

Orang tua merupakan kiblat bagi anak. Apa yang orang tua lakukan akan dilakukan anak juga. Oleh karenanya, perlu menjadi bijak sebagai orang tua.

Sikap orang tua yang terlalu otoriter dan galak mungkin akan membuat anak-anak menurut, namun bisa jadi anak-anak tumbuh menjadi anak yang takut bercerita tentang masalahnya karena takut dimarahi.

Bisa juga anak tumbuh menjadi anak yang penurut didepan anda, namun dibelakang ia justru membangkang.

Namun, jika anda terlalu longgar dengan memanjakan dan membiarkannya begitu saja, anak bisa tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggungjawab dan egois. Jadi, mendisiplinkan anak sangat perlu.

Tips Menghukum Anak dengan Bijak Tanpa Sesal

Ada baiknya orang tua menentukan sikap bagaimana cara menghukum anak agar anak lebih disiplin.

Selain itu, orang tua juga tidak merasa menyesal telah menghukum anak.

Berikut beberapa tips menghukum anak yang bisa anda coba:

1. Tetapkan aturan dan konsisten

Penting untuk konsisten dalam menerapkan aturan dan hukuman. Anak perlu tahu apa yang diharapkan dari mereka dan konsekuensi dari perilaku yang tidak sesuai.

Jika aturan dan hukuman berubah-ubah, anak mungkin akan bingung dan sulit belajar.

Buatlah aturan yang jelas sejak awal. Berlakukan pada semua anggota keluarga dirumah.

Pastikan semua keluarga menaati dengan konsisten tanpa tawar menawar dan selalu dijalankan, tidak boleh kadang dilakukan kadang tidak.

Jika anak melanggar peraturan dan anda tidak menghukumnya karena anda lelah atau karena ia baru saja melakukan hal baik, maka ia akan berfikir ia bisa melakukannya lagi tanpa hukuman.

2. Tidak ada “Good cop, Bad cop”

Anda dan pasangan adalah tim yang harus bekerja sama dan satu pemahaman dalam menentukan peraturan.

Strategi yang digunakan polisi tatkala mengintrogasi tersangka tidak dapat diterapkan di dalam keluarga.

Sebagai tim, anda harus kompak dalam menentukan sikap. Jangan sampai ayah terlalu keras terhadap anak, namun ibu  terlalu memanjakan.

Pasalnya, jika demikian anak memiliki kecenderungan takut terhadap salah satu pihak namun manja terhadap yang lain. Tak hanya itu, anak-anak juga tidak akan patuh pada peraturan dirumah karena orang tua tidak sepaham.

3. Tenangkan diri dulu sebelum memberi hukuman

Saat anak berbuat nakal, orang tua bisa dengan mudah terpancing emosi, terlebih jika anda juga telah kelelahan dengan kesibukan rumah atau pekerjaan.

Namun, perlu anda ingat, jangan sampai membentak anak dengan kata-kata yang bisa membuatnya trauma. Jika anda mulai merasa kehilangan kesabaran, sebaiknya menjauh dulu untuk memenangkan diri.

Ambil nafas panjang. Baru kembali pada anak untuk bicara dengan baik.

4. Beri semangat ketika ia melakukan hal baik

Seperti halnya jika anda menghumum anak saat berbuat nakal, berikan ia pujian dan semangat jika ia bisa berbuat baik.

Misalnya, jika anak mau membereskan mainanya sendiri atau membantu ibu mencuci piring.

Namun, jangan memberi hadiah pada anak berupa uang.

Pasalnya ia akan terbiasa disogok.

Pujian, kecupan atau sekedar jalan-jalan diluar rumah sudah menjadi reward yang berkesan untuk anak.

5. Anak tidak belajar dengan cepat; bersabarlah

Jangan berharap anak langsung menuruti dan mengerti setelah diberitahu atau dimarahi.

Jangan sampai melontarkan kata “Harus berapa kali Mama bilang..”.

Ulangi instruksi anda dan berikan contoh yang baik sampai anak mengerti mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

6. Jadi role model yang baik

Ini poin paling penting dalam mendidik anak. Anak-anak merupakan foto copi kita. Anak – anak lebi melihat tindakan kita daripada mendengar larangan kita.

Jika mereka sering melihat kita marah terhadap hal-hal sepele, maka anak-anak juga lebih sering tantrum jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

Jika anda ingin anak anda menjadi anak yang hebat, bertanggung jawab, dandisiplin, pastikan Anda juga sudah seperti itu!

7. Jangan beri hukuman berat

 

Jangan menghukum anak dengan hukuman yang berat.

Poin penting dalam menghukum anak adalah ia mengerti konsekuensi apa yang ia lakukan.

Intinya adalah komunikasi anda dan anak mengapa apa yang dilakukan anak itu salah, kenapa anak dihukum. Anak juga harus paham bahwa ia tidak lagi boleh melakukannya lagi.

Contoh hukuman yang sederhana misalnya ketika ia memberantakkan mainannya di ruang tamu dan tidak maumerapikannya lagi, Anda membereskan semua dan menyimpannya di kamar Anda, tidak boleh dimainkan dalam jangka waktu tertentu.

8. Jangan lupakan komunikasi dan penguatan positif

Selain hukuman, penting juga untuk berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan memberikan penguatan positif ketika mereka memperlihatkan perilaku yang baik.

Jalinlah komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak Anda.

Dengarkan dengan penuh perhatian saat mereka berbicara dan berikan kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan pendapat mereka.

Doronglah anak untuk berbicara tentang masalah atau kesulitan yang mereka hadapi.

Penguatan positif lebih efektif dalam membentuk perilaku daripada hanya mengandalkan hukuman.

Sampaikan aturan dan harapan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh anak.

Jelaskan mengapa aturan tersebut penting dan bagaimana mereka membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Berikan arahan yang konkret tentang perilaku yang diharapkan.

Berikan pujian dan penghargaan kepada anak ketika mereka menunjukkan perilaku yang diinginkan atau mencapai tujuan tertentu.

Fokuskan perhatian Anda pada keberhasilan mereka dan berikan pengakuan atas usaha dan prestasi mereka. Penguatan positif meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan ikatan emosional antara Anda dan anak.

Baca juga : 10 Cara Membantu Anak Menangani Stres di Sekolah

Tentang Penulis: Anna Subekti

Gambar Gravatar
Ibu rumah tangga yang suka berbagi cerita tentang kehidupan rumah tangganya, suka curhat tentang anak-anak, suami dan kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.