kewirausahaan, pendidikan, pernikahan, ibu hamil, teknologi informasi>

Beda Dapur Beda Makanan, Begitupun Merawat Anak

Merawat anak ibarat memasak rumah adalah dapur yang siap menyajikan berbagai menu

Beda dapur beda makanan. Di dapur terjadi proses pengolahan makanan dari bahan mentah menjadi makanan yang siap santap. Proses memasak itu sendiripun melalui berbagai tahapan dari mulai membersihkan bahan, sayur mayur, misalnya. Lepas dari membersihkan, bahan akan dipotong atau dipetik sedemikian rupa sehingga pas ukurannya dan memungkinkan masuk ke mulut tanpa rintangan.

Proses mempersiapkan bumbu juga perlu perhatian dan olah rasa yang tajam. Kita mengikuti resep pemakaian garam sebanyak satu sendok teh, maka lima kali memasak, satu sendok teh garam yang diambil dan dibubuhkan selama lima kali itu pun tak pernah sama. Siapa yang bisa menjamin seribu butir garam dalam satu sendok teh akan sama persis seribu butir pada sesendok teh yang kedua?

Proses belum berhenti. Bahan makanan masih perlu dimatangkan dengan proses. Kembali lagi, variasi proses; menanak, menumis, memanggang, menggoreng, mengukus, dan lain sebagainya. Menu yang kemudian hadir di atas meja ternyata berawal dari serangkaian proses menimbang, memutuskan, dan bertindak. Dapur yang memasak kari akan menghidangkan kari di meja makan, dapur yang memasak gulai akan menghasilkan gulai, dapur yang hanya menceplok telur akan menghasilkan telur mata sapi. Koki yang memasak gulai secara rendah hati tidak akan mencerca kari dari dapur sebelah, begitu pula koki si kari tidak akan memandang telur ceplok sebagai ancaman.

Dapur sebuah rumah akan menjadi semakin kompleks ketika ruh nya mulai muncul. Anak-anak dengan segala proses tumbuh kembangnya yang unik, berteriak, berlari-larian, dan dengan lompatan-lompatan pikiran yang sederhana sekaligus spontan. Ketika emak-emak /wali murid berkumpul tak jarang yang dibahas adalah kuliner dan anak-anaknya. Perbincangan seputar itu selalu seru. Perkembangan, kepandaian, bahkan kekecewaan karena prestasi anak terjun bebas dari semester sebelumnya merupakan komoditi menarik yang selalu siap diluncurkan, entah itu sebagai penyerang atau sebagai pihak yang harus menerima keadaan.

kepribadian seseorang berasal dari pengalaman sosial sepanjang hidupnya
Kepribadian seseorang berasal dari pengalaman sosial sepanjang hidupnya

“ Dik, tuh si Neneng aja dapat nilai matematika 90 mosok kamu cuman dapat 70.” Atau dalam acara rumpi di antara ibu-ibu seperti ini,” Ini nih Si Encep masih suka ngompol, padahal kan sudah masuk SMP,”. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kemudian pada diri sang anak. Sebuah sayatan kecil mulai melukai hatinya. Lebih buruknya lagi adalah luka itu semakin dalam dengan intensitas sayatan yang terjadi berkali-kali. Tidak ada antiseptik dan kassa untuk membebatnya. Luka itu akan mengering dengan sendirinya, atau makhluk serupa Si Neneng dan Si Encep ini akan dipaksa kerja keras emosionalnya menjadi lebih dewasa dari umurnya, atau luka itu semakin parah dan menjadi borok di kedalaman perasaan yang tak terjangkau.

“ Anakku itu selalu mendapat rangking tiga besar di sekolahnya. Padahal jarang-jarang lho dia belajar.” Meskipun ungkapan tersebut termasuk ujaran kesombongan yang terselubung, hal tersebut juga termasuk dalam kategori tindakan pem-bully-an pada anak lain. Perlu kita sadari bahwa membandingkan anak dalam hal fisik, karakter, kemampuan belajar,dan juga kepandaian merupakan sebuah tindakan persekusi pada anak. Jadi jangan kaget kalau dalam perkembangan psikososialnya anak tumbuh menjadi pribadi yang pendendam, dengki, dan iri hati terhadap orang lain.

Seorang psikolog bernama Erik Erikson ( psikolog yang pertama kali menggunakan istilah psikososial) menjelaskan bahwa perkembangan kepribadian seseorang berasal dari pengalaman sosial sepanjang hidupnya. Nah, artinya kondisi sosial seseorang berkaitan dengan kesehatan emosionalnya. Individu dengan mental atau emosional yang sehat akan memiliki cara pandang yang positif pada setiap peristiwa yang ia alami. Akan tetapi, orang yang tumbuh dengan membawa beban luka batin akan memiliki kecenderungan untuk bereaksi negatif dan tidak stabil dalam menghadapi situasi kesehariannya.

Pendidikan kita secara formal maupun informal memiliki tugas dasar untuk membangun psikososial yang baik pada anak. Kondisi psikososial yang baik akan memunculkan sikap positif, rasa nyaman, mampu mengendalikan ketegangan dan kecemasan, memahami cara bersyukur, dan memiliki sikap menghargai pada hal-hal lain di luar dirinya. Karakter yang unggul pada anak berhubungan dengan pengalaman psikososial yang sehat.

Tidak semua orang sanggup menjalankan tugas koki dengan baik di dapurnya sendiri. Koki yang baik tentunya tidak akan membandingkan lezatnya rendang sapi dengan segarnya rujak serut. Apa jadinya kalau rendang sapi kemudian merasa dengki pada rujak serut karena tidak memiliki cita rasa buah mangga di dalamnya. Haruskah rujak serut menyimpan dendam pada rendang sapi yang telah dinobatkan menjadi salah satu makanan terlezat dari Indonesia? Pada dasarnya, beda dapur beda makanan.

Sagala dalam buku Konsep dan Makna Pembelajaran (2005 : 84) menjelaskan 8 kecerdasan, antara lain; verbal/ bahasa, logika/matematika, spasial/visual, kinestetik, musikal/ritmik, interpersonal, intrapersonal, dan spiritual. Profesor Gardner yang menemukan Teori Multiple Intelligences atau kecerdasan majemuk ini menekankan pentingnya mengembangkan salah satu kecerdasan sampai puncak. Seorang anak yang unggul dalam kecerdasan verbal belum tentu unggul dalam kecerdasan matematika. Beda dapur beda makanan.

Rumah adalah dapur, anak-anak adalah masakan, dan orang tua adalah kokinya. Beda dapur beda makanan. Apa jadinya sebuah masakan menjadi hambar atau istimewa tergantung pada tukang masaknya. Bagaimana seorang anak tumbuh dan berkembang dengan kondisi psikososial yang baik bergantung pula dengan proses pendidikan dari orang tua dan lingkungannya. Maka dari itu, mari menjadi koki yang baik di dapur rumah kita.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*