kewirausahaan, pendidikan, pernikahan, ibu hamil, teknologi informasi>

Tumpi Readhouse, Rumah Baca yang Memberdayakan

Kegiatan AVI di Perpustakaan Tumpi Readhouse Desa Pentur

Terletak di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Tumpi Readhouse didirikan di Dk. Karang RT.16 RW.06 Desa Pentur, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Rumah bekas dapur ini menyediakan sekitar 3000 buku, 200an judul film, 3 unit komputer dengan koneksi internet, dan berbagai kegiatan lain yang bisa diakses  masyarakat umum.

Tumbuh dan berkembang tak lepas dari peran media sosial. Sajak dari rencana berdiri, nama Tumpi Readhouse telah dibuat di beberapa akun seperti facebook, twitter dan instagram. Dari sinilah pergerakan membangun perpustakaan itu dimulai. Buku-buku yang semula hanya milik pengelola, semakin hari semakin bertambah. Hal ini seiring sejalan dengan kegiatan di dunia nyata dalam melibatkan beberapa warga yang setuju dibangunnya Rumah Baca ini.

Memanfaatkan apapun yang ada, merupakan prinsip pertama pengelola agar apa yang direncanakan dapat segera terlaksana. Rumah kosong yang biasanya hanya digunakan sebagai dapur keluarga ini dirubah menjadi rumah baca sederhana. Bersama warga setempat, semangat gotong royong sangat terasa saat membenahi atap rumah yang bocor, mengganti dinding-dinding bambu dengan yang baru, dan menata tata letak rumah baca.

Sambutan Ketua RW setempat dalam pembukaan Tumpi Readhouse Sambutan Ketua RW setempat dalam pembukaan Tumpi Readhouse[/caption]

Saat rumah baca sudah layak untuk dihuni, malam pembukaan pun tiba. Tepat tanggal 6 Juli 2012 para tamu undangan berdatangan memenuhi kursi yang telah disediakan. Hiburan berupa Layar Tancap dengan hidangan ala kadarnya telah mampu menghangatkan suasana malam itu. Apalagi beberapa pengrajin dan pedagang turut meramaikan acara dengan membuka stan pameran, acara jadi terasa kian hidup.

Pemandangan hari pertama di Tumpi Readhouse memang sangat menggembirakan. Siang hari anak-anak sepulang sekolah langsung berebut tempat untuk membaca buku di perpustakaan ini. Ada banyak hal baru yang mereka temukan, terlihat dari kegembiraan mereka saat membaca maupun ketika melihat gambar-gambar dalam buku yang ada.

Hari demi hari terus berganti, namun jumlah anak yang datang semakin menurun. Saat itulah para pengelola mulai berpikir keras bagaimana supaya aktivitas di perpustakaan tetap hidup. Hampir setiap malam beberapa remaja yang tergabung dalam Karang Taruna ngobrol dan ngopi di tempat ini, membahas berbagai rencana untuk mengembangkan perpustakaan agar tetap berjalan.

Membuat kegiatan, merupakan jawaban paling realistis untuk tetap menghidupkan perpustakaan. Mulai saat itulah hampir seminggu sekali pasti diadakan kegiatan mulai dari pelatihan menulis, pelatihan pertanian, menggambar bersama dan lain sebagainya.

Salah satu acara diskusi tentang pertanian organik bersama Bp. Setiyarman dari Sukoharjo Salah satu acara diskusi tentang pertanian organik bersama Bp. Setiyarman dari Sukoharjo[/caption]

Rumah baca memang bukan tempat bekerja. Satu tahun berjalan, pengelola yang sebelumnya berjumlah 6 orang sebagian mundur teratur. Maklum, bagi yang sudah berkeluarga tuntuan ekonomi selalu menjadi kendala untuk bisa tetap konsisten menyelenggarakan kegiatan sosial. Pertengahan tahun 2013, Tumpi Readhouse seolah hidup segan mati tak mau. Padahal saat itu rumah baca ini telah berubah status menjadi Perpustakaan Desa dan Perpusda Provinsi Jawa Tengah telah memberi tambahan 1000 buku.

Mempertanggungjawabkan sebuah keterlanjuran memang bukan sesuatu yang ringan. Ketika masyarakat sekitar sudah melupakan keberadaanya, pemerintah desa sebagai “pemilik” perpustakaan juga abai, pengelolanyapun sudah kelelahan bertahan, dan masalah klasik tentang pendanaan selalu menjadi faktor utama yang menghantui. Akhirnya selama hampir setahun Tumpi Readhouse mati suri.

Memanfaatkan sisa-sisa tenaga yang ada, dua orang pengelola rumah baca punya pendapat, bahwa apa yang sudah dibuat harus tetap dirawat. Mulai dari titik inilah kedua orang suami istri tersebut mulai merancang berbagai agenda yang mungkin bisa mengembalikan marwah perpustakaan agar tetap hidup. Seperti yang dulu-dulu, harus ada kegiatan yang dilakukan di perpustakaan.

Kegiatan AVI di Perpustakaan Tumpi Readhouse Desa Pentur Kegiatan AVI di Perpustakaan Tumpi Readhouse Desa Pentur[/caption]

Kerjasama dengan berbagai pihak menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan yang ada. Untuk itulah dalam melakukan kegiatan seringkali melibatkan pihak lain. Dari berbagai kegiatan bersama ini, akhirnya perpustakaan kembali hidup, dan semakin banyak anak yang datang ke tempat ini.

Berbagai agenda kegiatan yang masih berjalan hingga kini diantaranya adalah :

  • Kampanye Ulang Tahun Hijau, yaitu gerakan untuk menanam pohon bagi siapapun yang berulang tahun
  • Kegiatan kelompok Tani Tumpi dengan menanam sayur di pekarangan rumah
  • Kegiatan kelompok UMKM Tumpi
  • Kegiatan TPQ untuk anak-anak yang diselenggarakan tiap sore
  • Dan kegiatan lain yang bersifat eventual

tiga unitkomputer hibah dari program pespuseru tiga unitkomputer hibah dari program pespuseru[/caption]

Dari berbagai kegiatan tersebut, akhirnya pada tahun 2017 Tumpi Readhouse menjadi salah satu mitra program Perpuseru yang diinisiasi oleh Coca-cola Foundation. Dari sinilah saat ini rumah baca memiliki fasilitas tiga unit komputer yang bisa digunakan sebagai sarana meningkatkan pengetahuan melalui Teknologi Informasi. Akhir tahun 2017, Tumpi Readhouse menerima penghargaan sebagai salah satu perpustakaan terbaik dari 595 perpustakaan mitra perpuseru di Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*