14 Tahap Pra Produksi Film: Persiapan Penting, Kerja Efektif

Ketika Anda berencana membuat film, baik film pendek maupun panjang, terdapat tiga tahap yang harus dilalui yaitu tahap Pra Produksi, Produksi dan Pasca-Produksi.

Pra-produksi film adalah tahap persiapan sebelum proses produksi utama dimulai. Ini adalah fase penting dalam pengembangan film, di mana rencana produksi, kreatif, dan logistik dirumuskan.

Berikut ini hal-hal yang biasanya dilakukan selama tahap pra-produksi film:

1. Pengembangan Naskah

Hal pertama yang dilakukan pada tahap pra produksi adalah pengembangan naskah film. Ini merupakan proses yang melibatkan penyusunan, peningkatan, dan penyesuaian naskah film atau skenario.

Aktivitas dalam pengembangan naskah dapat beragam, tergantung pada fase pengembangan yang sedang dilakukan.

Berikut adalah beberapa aktivitas pra produksi yang terkait dengan pengembangan naskah:

  1. Melakukan penelitian mendalam tentang topik, latar belakang, atau tema yang terkait dengan naskah.
  2. Mengembangkan konsep dasar atau ide inti untuk naskah, termasuk menentukan arah cerita yang diinginkan.
  3. Merencanakan alur cerita secara keseluruhan, termasuk pengenalan karakter, konflik utama, dan titik balik penting.
  4. Menulis draf awal naskah yang mengikuti kerangka cerita yang telah dipetakan sebelumnya. Pada sesi ini penulis bisa fokus pada mengembangkan dialog, karakter, dan adegan utama.
  5. Mendalami karakter-karakter dalam naskah, termasuk latar belakang, motivasi, dan perjalanan emosional mereka.
  6. Melakukan pembacaan naskah dengan tim pengembangan untuk mendapatkan umpan balik konstruktif.
  7. Berdasarkan umpan balik yang diterima, penulis dapat merevisi dan melakukan penyesuaian pada naskah.
  8. Setelah itu melakukan pembacaan ulang naskah dengan pemeran atau melakukan pengujian dengan membaca naskah dihadapan audiens terbatas.
  9. Bekerja sama dengan produser dan sutradara untuk mengembangkan naskah. DIsini penulus dapat menerima arahan, diskusi ide, dan pengembangan bersama untuk mencapai visi yang diinginkan.
  10. Menyempurnakan naskah hingga mencapai versi final yang siap diproduksi.

Setiap aktivitas dalam pengembangan naskah bertujuan untuk memperbaiki dan memperkaya naskah, sehingga menghasilkan kisah yang menarik, karakter yang kuat, dan dialog yang meyakinkan.

Proses pengembangan naskah saat pra produksi dapat melibatkan literasi dan revisi yang berulang untuk mencapai hasil yang diinginkan.

2. Penyusunan Tim Produksi

aktivitas yang dilakukan dalam penyusunan tim produksi

Setelah naskah siap diproduksi, langkah selanjutnya adalah penyusunan tim produksi.

Tim produksi ini biasanya dibagi ke beberapa departemen untuk memudahkan koordinasi.

Ini merupakan langkah penting dalam persiapan produksi film.

Beberapa aktivitas pra produksi yang dilakukan dalam penyusunan tim produksi daintaranya adalah:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan produksi dan menentukan peran yang harus diisi di tiap departemen produksi.
  2. Mencari dan merekrut anggota tim produksi yang sesuai dengan kebutuhan produksi.
  3. Mengevaluasi calon kandidat berdasarkan kualifikasi, pengalaman, kreativitas, dan keterampilan yang diperlukan untuk peran tersebut.
  4. Menyusun kontrak kerja yang memuat hak dan kewajiban tim produksi.
  5. Menyusun jadwal kerja tim produksi dan mengatur logistik terkait, termasuk jadwal syuting, jadwal latihan, dan pengaturan peralatan produksi.
  6. Mendorong kolaborasi antara anggota tim produksi untuk mencapai visi yang diinginkan.

Penyusunan tim produksi yang dilakukan pada tahap pra produksi penting dilakukan dengan seksama untuk menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, efisien, dan kreatif.

Setiap anggota tim harus memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas, serta kemampuan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan produksi film yang diinginkan.

3. Membuat Shot List

pembuatan shot list di tahap pra produksi

Untuk mempermudah pengambilan gambar saat proses produksi film, diperlukan pembuatan shot list di tahap pra produksi ini.

Shot list adalah daftar rinci dari adegan-adegan yang akan difilmkan, termasuk komposisi kamera, gerakan kamera, dan informasi penting lainnya.

Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat shot list:

  1. Baca naskah secara menyeluruh untuk memahami cerita, alur, dan suasana yang ingin disampaikan.
  2. Diskusikan dengan sutradara untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang visi dan ide-ide mereka untuk setiap adegan. Pertimbangkan sudut pandang kamera yang diinginkan, pergerakan kamera, dan gaya visual yang ingin dicapai.
  3. Analisis setiap adegan dan tentukan jenis shot yang diperlukan, seperti wide shot, medium shot, close-up, over-the-shoulder shot, atau crane shot. Pertimbangkan juga kebutuhan tambahan seperti adegan aksi, efek khusus, atau peralatan khusus yang diperlukan.
  4. Untuk setiap shot, catat detail teknis yang perlu dicatat, seperti posisi kamera, lensa yang digunakan, fokus, aperture, dan kecepatan rana. Juga, catat pergerakan kamera yang diinginkan, seperti pan, tilt, zoom, atau dolly.
  5. Pertimbangkan penggunaan transisi antara adegan, apakah menggunakan cut, fade, dissolve, atau transisi lainnya. Catat transisi ini dalam shot list untuk memastikan kelancaran pengeditan dan perpindahan antara adegan.
  6. Prioritaskan shot berdasarkan urgensi dan kepentingannya dalam cerita. Identifikasi adegan penting yang harus difilmkan terlebih dahulu atau di tempat yang sama untuk efisiensi produksi.
  7. Tentukan lokasi dan waktu di mana masing-masing adegan akan difilmkan.
  8. Gunakan alat bantu software atau aplikasi shot list untuk membantu membuat daftar shot secara terstruktur dan mudah diorganisir.
  9. Bagikan shot list kepada tim produksi, termasuk DoP (director of photography), kru kamera, dan anggota tim lainnya. Pastikan semua orang terlibat memahami shot list dan visi yang ingin dicapai.
  10. Setelah mendapatkan masukan dari tim produksi, revisi shot list jika diperlukan.

Membuat shot list yang komprehensif dan terperinci saat dalam proses pra produksi akan membantu memandu proses syuting dan memastikan bahwa semua adegan yang diperlukan difilmkan sesuai dengan visi dan kebutuhan produksi film.

4. Pembuatan Storyboard

Storyboard membantu dalam merencanakan komposisi visual

Setelah pembuatan shot list jadi, proses selanjutnya bisa dikembangkan dengan pembuatan storyboard.

Dalam tahap pra produksi, ini adalah proses menggambarkan visual adegan-peradegan dalam urutan cerita secara berurutan menggunakan gambar atau ilustrasi.

Storyboard membantu dalam merencanakan komposisi visual, komposisi kamera, pergerakan kamera, dan urutan adegan dalam produksi film.

Berikut ini langkah-langkah pembuatan storyboard:

  1. Baca naskah dan sho tlist yang telah dibuat.
  2. Gambarlah setiap adegan dalam bentuk gambar atau ilustrasi. Anda dapat menggunakan kertas atau software desain khusus untuk storyboard.
  3. Tambahkan keterangan tambahan seperti deskripsi adegan, gerakan kamera, dialog, atau efek khusus yang perlu ditunjukkan dalam storyboard.
  4. Susun adegan-adegan dalam urutan yang sesuai dengan alur cerita. Pastikan bahwa storyboard mencerminkan urutan yang benar untuk menggambarkan alur cerita dengan jelas.
  5. Bagikan storyboard kepada sutradara, sinematografer, dan anggota tim kreatif lainnya untuk mendapatkan masukan dan memastikan visi yang sama. Diskusikan perubahan atau penyesuaian yang diperlukan mumpung masih dalam tahap pra produksi.
  6. Jika ada perubahan dalam naskah atau kebutuhan produksi, revisi storyboard sesuai kebutuhan. Pastikan storyboard akhir mencerminkan visi dan kebutuhan produksi film.

Storyboard merupakan alat yang kuat untuk berkomunikasi dan menggambarkan visual adegan dalam produksi film.

Hal ini membantu dalam merencanakan pengaturan kamera, pemilihan framing, dan memberikan petunjuk kepada tim produksi tentang apa yang harus difilmkan dalam setiap adegan.

5. Perencanaan Anggaran dan Keuangan

tugas bendahara mengatur arus kas dan keuangan

Untuk mewujudkan cerita menjadi film, tentu membutuhkan anggaran.

Untuk itu, pada saat pra produksi harus melakukan perencanaan keuangan termasuk dalam mencari dana untuk biaya produksi film.

Perencanaan keuangan menjadi langkah penting untuk dilakukan dalam produksi film, ini untuk efisiensi dalam mengelola sumber daya finansial.

Beberapa aktivitas pra produksi yang terkait dengan anggaran dan perencanaan keuangan diantaranya adalah :

  1. Mengidentifikasi dan menganalisis semua komponen biaya yang terkait dengan produksi film, termasuk gaji, peralatan, lokasi, transportasi, kostum, shooting, pengeditan, pemasaran, dan lainnya.
  2. Membuat estimasi biaya produksi berdasarkan pengalaman sebelumnya, penawaran dari vendor, konsultan ahli, dan penelitian mendalam terkait biaya yang diperlukan.
  3. Mengidentifikasi sumber pendanaan untuk produksi film, seperti investor, perusahaan produksi, sponsor, atau sumber pendanaan lainnya.
  4. Membuat rencana arus kas untuk mengelola aliran kas selama produksi film.
  5. Membuat kontrak dengan pihak terkait, seperti pemeran, vendor, dan kru.
  6. Pengendalian biaya untuk mengoptimalkan penggunaan dana, meliputi pemilihan vendor, penggunaan teknologi, negosiasi harga, dan pemantauan anggaran.
  7. Mengidentifikasi risiko keuangan yang mungkin timbul selama produksi film dan merencanakan tindakan pencegahan atau mitigasi yang sesuai.

Dengan melakukan perencanaan keuangan yang hati-hati saat pra produksi, bagian keuangan dapat mengelola sumber daya finansial dengan lebih efisien dan berguna untuk menghindari masalah keuangan yang tidak diinginkan.

6. Penyusunan Jadwal Produksi

kalender-2016-indonesia-corel-draw

Agar proses produksi bisa berjalan lancar dan tepat waktu, di tahap pra produksi ini diperlukan perencanaan jadwal produksi yang matang.

Berikut ini beberapa aktivitas pra produksi yang dilakukan terkait penyusunan jadwal produksi:

  1. Mengidentifikasi tahapan produksi film secara keseluruhan, mulai dari tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Setiap tahap memiliki aktivitas dan waktu yang berbeda.
  2. Menganalisa naskah dengan rinci untuk mengidentifikasi adegan, lokasi, jumlah pemeran, dan elemen produksi lainnya yang diperlukan.
  3. Mengidentifikasi lokasi syuting yang diperlukan dan memeriksa ketersediaan serta persyaratan yang terkait.
  4. Menentukan jumlah hari yang diperlukan untuk proses syuting berdasarkan analisis naskah, jumlah adegan, dan faktor lain seperti ketersediaan pemeran dan kru, serta waktu yang diperlukan untuk set-up dan persiapan.
  5. Mengatur urutan dan prioritas pengambilan gambar adegan berdasarkan ketersediaan pemeran, lokasi, dan kebutuhan produksi lainnya.
  6. Menentukan alokasi waktu harian untuk pengambilan gambar, termasuk waktu untuk persiapan, set-up, pengambilan gambar utama, dan perubahan lokasi jika keadaan darurat.
  7. Berkomunikasi dengan tim kreatif, seperti sutradara, sinematografer, dan desainer produksi, untuk memastikan jadwal produksi sesuai dengan visi kreatif dan kebutuhan produksi film.
  8. Memastikan ketersediaan pemeran dan kru, termasuk penjadwalan audisi, pengaturan kontrak, dan pengorganisasian jadwal kerja yang efisien.
  9. Mempertimbangkan fleksibilitas dalam jadwal produksi untuk mengatasi perubahan tak terduga, cuaca buruk, atau situasi darurat lainnya.

Penyusunan jadwal produksi yang baik akan membantu pengaturan yang efisien dan terorganisir, memastikan penggunaan sumber daya yang optimal, serta mencapai target waktu produksi secara tepat.

7. Urus Perijinan saat Pra Produksi

aktivitas yang bisa dilakukan terkait dengan perijinan

Untuk kelancaran produksi film, memastikan semuanya clear saat pra produksi menjadi sesuatu yang penting dalam produksi film, termasuk perijinan.

Hal ini berguna untuk mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin bisa timbul saat pelaksanaan produksi.

Berikut ini aktivitas pra produksi yang bisa dilakukan terkait dengan perijinan:

  1. Mengidentifikasi semua persyaratan perijinan yang diperlukan untuk produksi film, baik itu izin syuting, izin lokasi, izin penggunaan properti pribadi atau publik, izin musik, izin hak cipta, dan izin lainnya yang relevan.
  2. Menggali informasi mengenai peraturan dan persyaratan perijinan yang berlaku di lokasi syuting.
  3. Menghubungi pihak berwenang yang terkait ijin, seperti Pemda, dinas pariwisata, atau pemilik properti untuk memperoleh informasi yang diperlukan.
  4. Menyiapkan dan mengajukan permohonan perijinan yang diperlukan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
  5. Berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti pemilik properti, pemilik lokasi, atau organisasi terkait untuk mendapatkan persetujuan dan izin yang diperlukan.
  6. Memantau proses perijinan untuk memastikan permohonan sedang diproses dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
  7. Menyiapkan dokumen resmi, kontrak, atau perjanjian yang berkaitan dengan perijinan yang telah diperoleh. Hal ini mencakup perjanjian sewa lokasi, surat izin penggunaan properti, atau kontrak hak cipta musik.
  8. Mengurus asuransi produksi yang sesuai untuk melindungi produksi film dari kerusakan properti, kecelakaan, atau tanggung jawab hukum yang mungkin terjadi selama proses produksi.
  9. Melakukan pembayaran biaya perijinan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
  10. Membuat salinan dan menyimpan semua dokumen perijinan.

Membuat kontrak terkait perijinan hukumnya WAJIB dilakukan saat pra produksi.

Ini untuk menjaga kelancaran produksi film, mencegah masalah hukum, dan memastikan bahwa produksi film bisa dijalankan secara legal dan etis.

8. Casting dan Audisi

Casting adalah proses seleksi akhir di mana pemilihan pemeran

Casting dan audisi adalah dua istilah yang sering digunakan dalam proses seleksi pemeran untuk film, televisi, atau produksi teater, proses ini dilakukan pada tahap pra produksi.

Meskipun keduanya terkait erat, namun ada perbedaan penting antara casting dan audisi.

Berikut adalah penjelasan singkat tentang perbedaan antara keduanya:

Audisi:

  • Audisi adalah proses di mana para calon pemeran datang untuk memperlihatkan bakat dan kemampuan mereka kepada panel penilai.
  • Audisi dilakukan oleh para aktor yang berusaha mendapatkan peran dalam produksi.
  • Pada saat audisi, aktor akan membawakan adegan atau dialog yang telah ditentukan sebelumnya.
  • Audisi bertujuan untuk menilai kemampuan akting, kemampuan menyampaikan emosi, penampilan fisik, dan keterampilan lainnya yang diperlukan untuk peran yang sedang diaudisikan.
  • Audisi biasanya diadakan dalam tahap awal proses casting untuk menyaring aktor-aktor yang cocok untuk peran-peran tertentu.

Casting:

  • Casting adalah proses seleksi akhir di mana pemilihan pemeran dilakukan berdasarkan hasil audisi.
  • Dalam tahap ini, para penilai akan mempertimbangkan hasil audisi, kompatibilitas aktor dengan karakter, kemampuan bekerja dalam tim, dan faktor-faktor lainnya yang relevan.
  • Pada tahap casting keputusan akhir dibuat, dan aktor yang terpilih ditetapkan untuk memerankan peran-peran yang telah ditentukan.
  • Casting adalah tahap akhir dalam proses seleksi pemeran dan mengarah pada penugasan pemeran untuk produksi tersebut.

Audisi merupakan bagian dari proses casting yang lebih luas dan membantu menyaring aktor-aktor potensial sebelum keputusan akhir diambil. Kedua aktivitas ini hanya efektif dilakukan saat pra produksi film.

9. Membuat Desain Produksi dan Konsep Visual

Desain Produksi dan Konsep Visual

Proses ini merupakan aktivitas dalam produksi film yang melibatkan perancangan dan penentuan estetika visual dari set, kostum, properti, dan elemen-elemen lainnya.

Pembuatan konsep visual menjadi langkah penting untuk mengembangkan ide-ide dan menggambarkan secara visual konsep desain produksi atau elemen-elemen lainnya dalam produksi film.

Beberapa aktivitas pra produksi yang dilakukan pada tahap ini adalah:

  1. Membaca dan menganalisis naskah secara menyeluruh untuk memahami setting, atmosfer, dan karakter dalam cerita.
  2. Mengidentifikasi elemen-elemen visual yang diperlukan untuk menggambarkan cerita film dengan akurat.
  3. Melakukan riset untuk mengumpulkan referensi visual yang sesuai dengan konteks cerita.
  4. Berdiskusi dengan sutradara dan anggota tim kreatif, seperti sinematografer, bagian artistik, dan kostum desainer, untuk membahas visi dan gaya visual yang ingin dicapai dalam  film.
  5. Membuat mood board atau collage visual yang menggambarkan konsep desain produksi. Ini bisa menggunakan gambar, warna, tekstur, dan elemen visual lainnya untuk membantu memvisualisasikan dan menyampaikan konsep desain secara lebih jelas.
  6. Membuat sketsa dan desain detail dari set, kostum, properti, dan elemen lainnya yang diperlukan.
  7. Membuat desain karakter yang menggambarkan penampilan, pakaian, rambut, dan ciri khas karakter film.
  8. Menyampaikan konsep desain kepada sutradara dan tim kreatif dalam bentuk presentasi.
  9. Bekerja sama dengan tim produksi untuk mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan desain produksi.
  10. Berkolaborasi dengan tim produksi lainnya, seperti penata artistik, bagian kostum, penata rias, dan penata rambut untuk memastikan konsistensi dan kesesuaian antara desain produksi dengan elemen visual lainnya.
  11. Membuat blueprint atau rencana teknis yang detail untuk pembuatan set, pencahayaan, dan elemen produksi lainnya.
  12. Melakukan revisi dan penyesuaian desain produksi sesuai dengan umpan balik dan perubahan yang mungkin terjadi selama proses produksi.

Dengan membuat desain produksi dan konsep visual yang kuat dan konsisten, akan dapat membantu mempermudah dalam menciptakan atmosfer cerita film.

10. Perencanaan Lokasi

Perencanaan dan penentuan lokasi syuting

Untuk mendukung terciptanya suasana yang sesuai dengan cerita film, pemilihan lokasi yang cocok akan sangat turut membantu mewujudkan visi visual dalam film.

Perencanaan dan penentuan lokasi syuting menjadi satu hal penting dalam produksi film agar sesuai dengan kebutuhan cerita.

Beberapa aktivitas pra produksi yang terkait dengan perencanaan lokasi ini diantaraya adalah:

  1. Menganalisis naskah dan membahas dengan sutradara serta tim kreatif untuk mengidentifikasi jenis lokasi yang diperlukan dalam film. Hal ini meliputi lokasi In-door dan Out-door.
  2. Melakukan riset untuk menemukan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan cerita dan visi visual.
  3. Melakukan survey langsung ke potensi lokasi yang telah diidentifikasi. Mengamati lingkungan, memeriksa aksesibilitas, memperhatikan kondisi fisik, dan memastikan kelayakan sebagai lokasi syuting.
  4. Menghubungi dan berkomunikasi dengan pemilik properti untuk mendapatkan izin syuting.
  5. Melakukan persiapan khusus sebelum syuting, seperti perbaikan, membuat akses, dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mempersiapkan lokasi sesuai dengan kebutuhan produksi.
  6. Memastikan memperoleh izin yang diperlukan dari pihak berwenang dan berkoordinasi dengan tim perijinan.
  7. Memastikan aksesibilitas lokasi untuk kebutuhan produksi, termasuk akses transportasi, parkir, listrik, air, dan fasilitas lainnya.
  8. Mengintegrasikan jadwal syuting dengan ketersediaan lokasi yang telah dikonfirmasi.
  9. Berkoordinasi dengan tim produksi untuk memastikan pemahaman yang jelas tentang kebutuhan lokasi dan pengaturan syuting.
  10. Memperhatikan aspek keselamatan di lokasi, termasuk pemahaman tentang aturan keselamatan, pengaturan evakuasi, dan persiapan darurat jika terjadi sesuatu yang tak terduga.

Perencanaan lokasi yang baik memastikan pemilihan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan membantu kelancaran proses syuting.

11. Perencanaan Produksi dan Logistik

Perencanaan Produksi dan Logistik

Perencanaan produksi dan logistik adalah proses merencanakan dan mengatur segala aspek yang terkait dengan produksi film, termasuk sumber daya, jadwal, transportasi, akomodasi, dan kebutuhan logistik lainnya.

Berikut ini adalah beberapa aktivitas pra produksi yang bisa dilakukan  terkait hal tersebut:

  1. Menganalisis naskah dan mengidentifikasi kebutuhan produksi yang meliputi lokasi syuting, set, properti, kostum, make-up, dan peralatan teknis lainnya.
  2. Menghitung perkiraan biaya produksi berdasarkan kebutuhan produksi yang telah diidentifikasi.
  3. Mengatur jadwal produksi yang mencakup kegiatan persiapan pra-produksi, hari-hari syuting, serta periode pasca-produksi.
  4. Menentukan urutan syuting yang efisien berdasarkan ketersediaan lokasi, kebutuhan artis dan kru, dan faktor lainnya.
  5. Mengidentifikasi dan mengumpulkan sumber daya yang diperlukan, seperti sewa peralatan kamera, pencahayaan, suara, dan peralatan teknis lainnya.
  6. Mengorganisir transportasi untuk kru, artis, dan peralatan produksi dari dan ke lokasi syuting. Menyusun jadwal transportasi yang efisien dan memastikan ketersediaan kendaraan yang sesuai.
  7. Mengatur akomodasi untuk kru dan artis selama periode produksi. Mencari dan memesan tempat menginap yang sesuai dengan jumlah orang dan kebutuhan lainnya.
  8. Menyediakan makanan dan minuman untuk kru dan artis selama syuting. Mengorganisir layanan catering dan mempertimbangkan preferensi diet, alergi, dan kebutuhan khusus lainnya.
  9. Merencanakan logistik secara keseluruhan, termasuk pengaturan penyimpanan, pengangkutan peralatan, dan pengaturan kebutuhan logistik lainnya.
  10. Memastikan peralatan dan barang-barang yang diperlukan tersedia di lokasi syuting.

Dengan merencanakan berbagai kebutuhan produksi, mengatur jadwal, mengelola sumber daya, dan mengkoordinasikan logistik dengan baik, produksi film dapat berjalan dengan efektif dan mendapatkan hasil yang berkualitas.

12. Perencanaan Distribusi

Bioskop dirancang khusus untuk menikmati film

Perencanaan ini dilakukan untuk memastikan film dapat didistribusikan secara efektif kepada target audien.

Distribusi film melibatkan penentuan saluran distribusi, negosiasi kontrak distribusi, pemilihan tanggal rilis, dan strategi pemasaran untuk mencapai audiens yang lebih luas.

Berikut ini beberapa aktivitas pra produksi yang bisa dilakukan terkait perencanaan distribusi film:

  1. Pertama, tentukan saluran distribusi yang sesuai untuk film yang diproduksi. Saluran distribusi dapat mencakup bioskop, platform streaming online, DVD/Blu-ray, televisi, video on demand (VOD), atau festival film. Pertimbangkan karakteristik film Anda, anggaran, target audiens, dan visi distribusi yang diinginkan.
  2. Jika Anda bekerja dengan distributor atau perusahaan distribusi, lakukan negosiasi kontrak distribusi. Hal ini melibatkan pembicaraan tentang hak distribusi, persentase pembagian pendapatan, jangka waktu distribusi, wilayah distribusi, dan strategi pemasaran bersama.
  3. Pilih waktu yang tepat untuk rilis film. Pertimbangkan faktor-faktor seperti persaingan film lain, musim liburan, peristiwa khusus, dan tren penonton. Pilih tanggal yang dapat memberikan ruang dan perhatian yang cukup untuk film yang diproduksi.
  4. Rencanakan strategi pemasaran dan promosi untuk mendukung distribusi film. Ini melibatkan pembuatan rencana pemasaran yang mencakup saluran media sosial, situs web, iklan, wawancara media, pemutaran khusus, dan kampanye promosi lainnya. Pertimbangkan juga kerjasama dengan influencer, pemangku kepentingan industri, dan media yang relevan.
  5. Jika film akan diputar di bioskop, lakukan koordinasi dengan pemilik bioskop terkait penjadwalan dan penayangan. Pastikan film Anda tersedia di jumlah layar yang memadai dan pada jadwal yang tepat untuk mencapai audiens yang luas.
  6. Jika Anda memilih untuk mendistribusikan film melalui platform streaming online atau VOD, kerja sama dengan penyedia layanan distribusi digital yang dapat membantu mengunggah dan menyebarkan film Anda ke platform-platform tersebut.

Dengan merencanakan saluran distribusi yang tepat, menjalankan strategi pemasaran yang efektif, dan melibatkan mitra distribusi yang kompeten, Anda dapat meningkatkan peluang sukses film Anda di pasar.

13. Perancangan Promosi

Media-sosial-bisa-menjadi-sarana-promosi-Wedding-Organizer

Agar film yang telah diproduksi bisa dikenal dan ditonton banyak orang, satu hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan pada saat pra produksi adalah dengan melakukan promosi.

Ini bertujuan untuk memberitahukan kepada target audiens dan membangun buzz seputar rilis film tersebut.

Adapun aktivitas pra produksi yang bisa dilakukan saat perancangan promosi film diantaranya:

  1. Menentukan tujuan promosi film agar dapat mencapai target penjualan tertentu. Tujuan yang jelas akan membantu mengarahkan strategi dan taktik promosi.
  2. mengenali target audiens yang tepat untuk film yang akan rilis. Ini bisa dilakukan dengan Analisa demografi, preferensi, dan kebiasaan konsumen yang relevan dengan genre atau tema film tersebut.
  3. Penyusunan strategi promosi yang efektif untuk film tersebut. Ini melibatkan pemilihan sarana promosi yang tepat, seperti media sosial, situs web, iklan cetak, televisi, radio, festival film, atau kerjasama dengan mitra dan influencer.
  4. Pembuatan materi promosi yang menarik, seperti trailer film, poster, gambar promosi, cuplikan adegan, wawancara dengan para pemain, atau konten kreatif lainnya.
  5. Gunakan kekuatan media sosial untuk mempromosikan film, bagikan konten kreatif, behind-the-scenes, berita terkait film, dan interaksi langsung dengan calon penonton.
  6. Buat dan jalankan kampanye iklan melalui saluran yang relevan, seperti media cetak, radio, televisi, dan platform digital. Gunakan penargetan yang tepat untuk mencapai audiens yang relevan dengan film.
  7. Selenggarakan acara promosi yang menarik perhatian, seperti pemutaran perdana, penayangan khusus, atau pertemuan dengan para pemain.
  8. Bangun hubungan yang baik dengan media, termasuk wartawan, kritikus, blogger, dan influencer industri.
  9. Rencanakan dan koordinasikan peluncuran kampanye promosi dengan baik, termasuk pengaturan jadwal, pengelolaan anggaran, dan koordinasi tim promosi.

14. Rehearsal

memastikan bahwa data gambar yang dihasilkan dari kamera direkam dengan benar

Setelah semua persiapan sudah matang, hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan dalam proses pra produksi adalah Rehearsal.

Dalam konteks produksi film, ini adalah proses di mana para aktor dan anggota tim kreatif terlibat dalam latihan dan persiapan sebelum melakukan pengambilan gambar sebenarnya.

Tujuan dari rehearsal adalah untuk mempersiapkan dan mengasah kinerja para aktor serta menyelaraskan berbagai elemen produksi sehingga semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang visi dan nuansa yang ingin dicapai dalam adegan atau film secara keseluruhan.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu dilakukan saat proses rehearsal dilaksanakan :

  1. Para aktor dan anggota tim kreatif akan berkumpul untuk membaca naskah bersama. Ini memberikan pemahaman awal tentang karakter, dialog, dan alur cerita. Diskusi juga dapat terjadi untuk memahami niat sutradara dan menafsirkan naskah dengan benar.
  2. Para aktor akan menghabiskan waktu dalam rehearsal untuk mengeksplorasi karakter mereka secara mendalam. Mereka akan mencoba memahami motivasi, emosi, dan kepribadian karakter yang mereka perankan.
  3. Selama rehearsal, aktor dan sutradara akan bekerja sama untuk menentukan blocking, yaitu gerakan dan posisi fisik para aktor di setiap adegan. Ini melibatkan pengaturan dan penentuan posisi aktor dalam hubungannya dengan kamera, pencahayaan, dan elemen visual lainnya.
  4. Aktor akan melibatkan diri dalam latihan membaca dialog dan mencoba berbagai penekanan dan ekspresi yang berbeda.
  5. Rehearsal juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan kostum dan properti yang akan digunakan dalam produksi. Aktor dapat mencoba kostum mereka dan menguji penggunaan properti yang relevan dengan adegan.
  6.  Jika adegan melibatkan aksi atau gerakan yang kompleks, seperti adegan laga atau tarian, rehearsal akan melibatkan koreografi aksi dan gerakan dengan bantuan koordinator aksi atau koreografer. Hal ini memastikan keselamatan dan keserasian gerakan yang tepat dalam adegan tersebut.
  7. Rehearsal juga memberikan kesempatan bagi sutradara dan anggota tim kreatif lainnya untuk mengkonsolidasikan visi mereka tentang film dan setiap adegan.

Baca Juga : Ini Cara dan Tahapan Membuat Film Pendek, Lengkap

Sumber gambar : Pixabay.com