Pesona Matahari Terbit dan Kalderia Bromo

matahari terbiit bromo

Gunung Bromo menyimpan keindahan yang tiad tara. Kawasan wisata ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan pesona kaldera atau lautan pasir serta kawah yang eksotis.  Konon, pemandangan matahari terbit merupakan yang paling indah di kawasan Bromo.

Kawasan wisata Bromo berada di Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang, Jawa Timur. Untuk mencapai kawasan wisata Bromo,  Anda bisa melalui empat pintu masuk, yaitu Desa Cemorolawang (Probolinggo), Desa Wonokitri (Pasuruan), Desa Ngadas Tumpang ( Malang), dan Desa Burno (Lumajang).

Anda bisa menikmati sunrise dan lautan pasir luas dari puncak Gunung Penanjakan dengan latar belakang Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan Gunung Batok. Puncak Penanjakan bisa dicapai dengan mengendarai mobil Jeep sekitar pukul 04.00 dari Cemoro Lawang.

Anda tidak akan sia-sia bagun pagi-pagi buta. Sebab, sesampai di puncak Penanjakan akan terpampang pemandangan matahari terbit yang menakjubkan. Menikmati keindahan sunset merupakan pengalaman yag tak akan terlupakan.

Seusai menikmati sunset, Anda bisa turun ke kaki Gunung Bromo untuk menikmati lautan pasir yang membentang, untuk kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menapaki anak tangga menuju puncak.

Nah, dari puncak Bromo, Anda bisa melihat kawah Gunung Bromo yang terus menerus mengeluarkan asap putih tebal. Jik a Anda datang pada bulan September, Anda bisa menyaksikan Suku Tengger mengadakan upacara adat Kasada.

Upacara ini merupakan bentuk ritual masyarakat Tengger untuk memohon panen berlimpah, sekaligus memohon keselamatan, dan terhindar dari berbagai bencana. Dalam upacara ini, masyakarat Tengger melemparkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo.

Waktu terbaik mengunjungi kawasan wisata adalah saat musim kemarau, tepatnya antara Mei hingga Oktober. Sebab, keindahan panorama akan terlihat dengan sempurna pada musim kemarau.

Suku Tengger

Salah satu pesona kawasan wisata Bromo yak tidak bisa ditinggalkan adalah kawasan Argosari, tempat bermukimnya masyarakat Suku Tengger. Desa ini memiliki sisi menarik yang belum banyak terekspose, dikenal dengan nama Puncak B29. Nama ini diambil dari  nama patok taman nasional.

Puncak B29 menyuguhkan pemandangan alam yang sangat menakjubkan indahnya. Bagai negeri di awan, Anda bisa melihat hamparan awan yang menutupi puncak-puncak gunung. Anda juga bisa menyaksikan keindahan sunrise dari kawasan ini.

Suku Tengger merupakan masyarakat asli kawasan Gunung dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mereka penganut agama Hindu, dan meyakini sebagai keturunan langsung dari pengikut Kerajaan Majapahit.

Keberadaan Suku Tengger sangat dihormati oleh warga sekitar karena sikap hidup mereka yang sederhana dan jujur. Hampir semua keluarga Suku Tengger hidup dengan cara bertani, mereka mberbikomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Konon, asal-usul merek aterkait dengan legenda Toro Anteng dan Joko Seger. Masyarakat tengger meyakini ssebagai keturunan Roro Anteng, seorang putri dari raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu putera seorang brahmana.

Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger, yang kemudian  menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau “Penguasa Tengger yang Budiman”.

Hari Raya Yadnya Kasada atau Upacara Kasada merupakan upacara besar masyarakat Tengger. Saat perayaan Kasada berlangsung, Gunung Bromo tidak hanya hanya dikunjungi umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tapi juga umat Hindu dari Bali yang juga merasa sebagai trah Kerajaan Majapahit.

Upacara lain yang digelar oleh masyarakat Tengger adalah Hari Raya Karo dan Unan-Unan, serta ritual-ritual lain yang berhubungan dengan siklus kehidupan Suku Tengger, seperti   kelahiran, menikah, kematian, serta upacara adat yang berhubungan siklus pertanian, mendirikan rumah, serta gejala alam.

Baca Juga : Panduan Wisata Backpacker ke Bromo, Begini Caranya



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*