kewirausahaan, pendidikan, pernikahan, ibu hamil, teknologi informasi>

Pasar Dhoplang, Wisata Kuliner Tempo Doeloe di Wonogiri 



Pasar Dhoplang di Wonogiri menawarkan destinasi wisata pasar tradisional tempo dulu. Konsep ini memang bukan  baru. Namun, destinasi wisata seperti ini tetap saja menjadi magnet kedatangan wisatawan. Salah satunya adalah Pasar Dhoplang, Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah.

Berada di tengah kebun jati milik warga, suasana pedesaan dan tradisional sangat kental mewarnai Pasar Dhoplang. Lokasi pasar ini benar-benar di pedesaan. Dari pusat kota kabupaten, Pasar Dhoplang berjarak sektar 40 kilometer.

Pasar Dhoplang menjual bermacam aneka kuliner tradisional khas Wonogiri, seperti nasi tiwul, sega berkat (nasi bancaan), cabuk, bakmi ondol, pecel puli, gatot, grontol, dan lainnya. Tidak kurang 193 jenis makanan dan minuman tersedia di pasar ini.

“Semua kuliner di pasar ini organik. Kami melarang pemakaian bumbu penyedap, pewarna, dan pengawet makanan. Masakan dioleh dengan kayu atau arang, bukan dengan kompor. Di pasar ini juga menolak semua bentuk plastik. Semua makanan dibungkus menggunakan daun jati atau daun pisang,”  kata Kepala Desa Pandan, Abdul Wahid Ahmadi.

Unik memang. Dengan bungkus daun, pengunjung yang membeli makanan layaknya berada di tempat hajatan di desa. Mereka membawa pecel puli, nasi bancaan, atau nasi tiwul dengan sayur lombok yang dibungkus daun jati, seperti berkat yang dibagikan pada hajatan-hajatan di wilayah pedesaan.

Alat pembayaran dalam transaksi jual-beli pun menggunakan koin kayu. Pengunjung harus terlebih dulu menukarkan uang dengan koin-koin kayu untuk bertransaksi. Koin yang disiapkan setara dengan pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, dan Rp 50.000 yang diwakili dengan angka 1, 5, 10, 20, dan 50.

“Jadi kalau Rp 1.000, koinnnya ada tulisan angka 1, kalau Rp 2.000 angka 2, begitu seterusnya. Setelah pasar selesai, nanti pedagang menukarkan koin kayunya dengan uang rupiah,” jelas Lilies, salah satu pengelola Pasar Dhoplang.

Pasar ini hanya buka pada Minggu mulai pukul 06.00 WIB, dan biasanya semua dagangan sudah habis pada pukul 10.00. Pengunjung mulai memadati sekitar pasar bahkan 30 menit sebelu pasar buka. Begitu buka, mereka langsung menyerbu kuliner yang ada.

Pasar Dhoplang Tawarkan Produk Lokal

Pasar Dhoplang, Wisata Kuliner Tempo Doeloe di Wonogiri
Kuliner di Pasar Dhoplang/instagram

Pasar ini digagas oleh ibu-ibu PKK Dasawisma RT2 RW1 Desa Pandan pada Januari tahun lalu. Awalnya, mereka hanya menggelar delapan lapak di pinggir jalan desa pada setiap Minggu, untuk menambah kas desa. Pembelinya tidak lain adalah tetangga atau warga satu RT.

Namun, satu bulan berjalan antusiasme warga semakin meningkat. Pengunjung tidak hanya datang dari kota kecamatan, tapi juga dari kota kabupaten yang jaraknya puluhan kilometer. Kelompok PKK tersebut kemudian memindah lapak-lapak ke ladang jati agar terkumpul dalam satu tempat. Selain itu juga agar pembel nyaman karena teduhnya pepohonan.

“Kami yang ingin mengangkat produk-produk lokal yang masih serba alami, terutama kuliner. Sekarang sudah ada 193 jenis kuliner, semua penjualnya warga Desa Pandan,” jelas Lilies.

Tidak hanya itu, semua pedagang dan pengelola pasar pun mengenakan pakaian tradisional Jawa. Seluruh pedagang dan pengunjung pasar juga wajib menggunakan bahasa Jawa ketika bertransaksi. Harga makanan yang dijual pun sangat terjangkau, berkisar Rp 2.000 sampai Rp 5 ribu.

“Kalau bayar jangan kaget, harganya benar-benar murah. Wisata ke Pasar Dohoplang itu wisata paling murah. Padahal akanannya enak semua,” ujar Sridita, 21, warga  Wonogiri Kota.

Selaku Kades, Ahmadi berharap Pasar Dhoplang akan seramai Pasar Papringan di Temanggung atau lainnya. Saat ini pihaknya sedang merancang pertunjukan kesenian sebagai hiburan pengunjung pasar.

“Kalau ada kesenian, seperti jaran kepang, tari topeng, atau atau reog kan semakin ramai.  Kami punya mimpi Desa Padan ini suatu hari nanti akan menjadi desa wisata, desa yang    menjaga dan memelihara kearifan lokal dan budaya Jawa,” tambah Ahmadi.(*)




Indonesia Kuat – Kang Jais (Official Video Music)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*