Ken Dedes, Ibu Raja-raja di Tanah Jawa

Ken Dedes, Ibu Raja-raja di Tanah Jawa
Arca Ken Dedes/Wikipedia

Ken Dedes, istri Akuwu Tunggul Ametung yang rupawan itu, turun dari kereta. Langkah kakinya menyibak kain yang dipakainya. Pada saat yang sama, entah dari mana datangnya tiba-tiba angin bertiup kencang. Kain pun tersingkap lebar, memperlihatkan betis hingga bagian atas paha.

Kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Arok,  tulis Pararaton. Artinya kira-kira; tersingkap betisnya, bercahaya sampai rahasianya terlihat oleh Ken Arok –abdi dalem Tumapel.

“Jika ada wanita yang seperti itu, itulah nariswari. Wanita utama yang akan menjadikan siapa saja suaminyaMaharaja,” kata Lohgawe, ayah angkat Arok.

Dan sejarah panjang Tumapel-Singosari pun bermula dari kain yang tersingkap itu. Ken Arok mulai mengatur rencana. Memesan keris pada Mpu Gandring, memamerkan pada Kebo Ijo, dan akhirnya menikam jantung Tunggul Ametung.

Arok, laki-laki dari Desa Campara, itu pun mengangkat dirinya menjadi akuwu Tumapel, sekaligus memperistri Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung.  Arok kemudian menggulingkan Kertajaya, Raja Kediri (1222), dan menjadikan Tumapel sebagai kerajaan baru yang dikenal dengan nama Singasari.

Dari Arok-Dedes inilah wangsa Rajasa dimulai. Sebuah generasi yang menjadi cikal bakal raja-raja di Tanah Jawa. Dedes melahirkan Anusapati, sedangkan sang selir, Ken Umang, melahirkan antara lain Tohjaya dan Mahisa Wonga Teleng.

Dedes adalah sosok yang sulit diidentifikasikan. Namanya tak pernah disebut dalam Nagarakertagama –sumber sejarah terpercaya karya Mpu Prapanca pada masa Hayam Wuruk memerintah Majapahit. Dedes juga tidak terdapat dalam prasasti apa pun.

Namun, nama Ken Dedes disebut dengan sangat gemilang dalam naskah Pararaton,  sebuah kitab yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit (pada akhir tahun 1400 atau akhir abad ke-14). Dari Pararaton pula Dedes mendapat sebutan wanita utama yang melahirkan raja-raja di Tanah Jawa.

Ken Dedes Ibu para raja

Ken Dedes, Ibu Raja-raja di Tanah Jawa
Ontologi Dedes/ now!jakarta.com

Setelah menaklukkan Kediri, Ken Arok naik tahta dengan gelar Rajasa Sang Amurwabumi yang menandai lahirnya dinasti baru, Arok-Dedes. Dan sejak 1222, dinasti ini bertahan hingga kini. Raja-raja yang memimpin kerajaan setelah Singasari, mulai Majapahit hingga Mataram Islam, adalah keturunan Dedes.

Singasari (1222-1292) diperintah oleh keturunan Dedes, kecuali pada era Tohjaya (anak Ken Arok dengan Ken Umang) yang singkat. Selebihnya, Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara adalah keturunan Dedes dengan Tunggul Ametung.

Pada masa Majapahit, Raden Wijaya sang pendiri Majapahit adalah keturunan Dedes dengan Ken Arok. Dan itu berlangsung hingga masa Majapahit yang hampir selama 200 tahun.

Majapahit berganti Demak. Masa pemerintahan pun berganti. Namun, mulai dari Raden Patah, Dipati Unus, sampai Sultan Trenggana adalah keturunan Dedes. Sebab, Raden Patah merupakan putra Prabu Brawijaya yang masih dalam garis keturunan Raden Wijaya.

Ketika Kerajaan Demak ditaklukkan Pajang, yang menjadi raja adalah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang merupakan keturunan Dedes. Sebab, Sultan Hadiwijaya merupakan anak Ki Ageng Pengging yang tak lain keturunan Raja Majapahit sebagaimana Raden Patah.

Pajang runtuh digantikan oleh Mataram dengan raja Sutawijaya. Ki Gede Pemanahan, ayah Sutawijaya, memang bukan keturunan Raja. Namun, Ki Ageng Selayang merupakan kakek buyut Sutawijaya adalah keturunan Bondan Kejawan yang tak lain anak Brawijaya. Keturunan Dedes tetap memerintah sampai sekarang  karena Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta adalah keturunan Panembahan Senapati.

Arca Prajnaparamita

Ken Dedes, Ibu Raja-raja di Tanah Jawa
Arca Prajna Paramita/Wikipedia

Pararaton menggambarkan Ken Dedes sebagai wanita cantik luar biasa. Konon, kecantikannya mengalahkan mengalahkan keindahan hyang sasadara (bulan). Ken Dedes tidak hanya secara ragawi, tapi juga memiliki kepribadian yang elok.  Pararaton menyebutnya sebagai stri nareswari atau wanita utama.

Masih menurut Pararaton, Ken Dedes adalah wanita yang mendapat karma amamadangi, perilaku yang tercerahkan karena kematangan ilmun yang dimilikinya. Ia adalah wanita yang memiliki kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Bisa jadi ini mengingat Ken Dedes adalah putri dari  Mpu Purwa, seorang pendeta Buda Mahayana .

Tidak banyak penampakan Ken Dedes ditemukan. Hingga akhirnya ditemukan arca Prajnaparamita yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 (Singasari). Arca yang menggabarkan wanita cantik ini ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri di sekitar Candi Singasari, Malang, Jawa Timur.]

Ditemukan pada 1818-1819 oleh D Monnereau,  selanjutnya Prajnaparamita diberikan kepada CGC Reinwardt yang kemudian menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde (Museum Nasional untuk Etnologi) di Leiden, Belanda. Baru pada Januari 1978 Rijksmuseum Voor Volkenkunde  mengembalikan arca ini ke Indonesia. Kini, Prajnaparamita disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Banyak yang mempercayai bahwa Prajnaparamita adalah gambaran dari Ken Dedes. Pendapat lain mengaitkan Prajnaparamita  sebagai perwujudan Gayatri Rajapatni,  permaisuri raja pertama Majapahit, Kertarajasa alias Raden Wijaya. Beberapa diskusi pun membahas soa keberadaan Prajnaparamita, khususnya antara Gayatri Rajapatni dan Ken Dedes.

Ken Dedes-Gayatri

Sejarawan dari University of British Columbia, Kanada, Paul Drake menyebut bahwa Prajnaparamita bukanlah Ken Dedes, melainkan Gayatri dari Majapahit.  Dilihat dari gaya artistiknya, kata Drake, arca tersebut berasal dari gaya era Majapahit. Maka, tidak lain bahwa arca Prajnaparamita sebagai perwujudan Gayatri.

Drake menyebut Gayatri adalah wanita pemikir pada zamannya. Ia juga dalang sejumlah peristiwa, salah satunya saat merekrut Gajah Mada sebagai Mahapatih. Gayatri, kata Drake, adalah aktor intelektual di balik masa paling gemilang dalam sejarah Nusantara, yaitu Majapahit pada era Tribhuwana Tunggadewi dan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

Namun, sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Malang (UM) Deni Yudo Wahyudi yang semula meyakini bahwa Prajnaparamita adalah Ken Dedes mulai percaya, bahwa arca itu memang Gayatri.

“Arca yang duduk di atas teratai di luar vas itu merupakan ciri patung Majapahit. Gayatri hidup pada jarak sekitar seratus tahun setelah Ken Dedes,” kata Deni.

Deni juga pada kajian sejarawan Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam buku Aksamala: Untaian Persembahan untuk Ibunda Prof Dr Edi Sedyawati (2003) dan Rahardjo S (2002) Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno yang menunjuk bahwa lokasi Prajnaparamita berasal dari kompleks Candi Singasari justru cocok jika diidentikkan dengan Gayatri.

Alasanya, pada era Ken Dedes lokasi Kerajaan Singasari bukan di Singasari, melainkan di kawasan Gunung Buring, sekitar 20 kilometer arah barat Kota Malang.

“Dedes atau Gayatri sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Tapi masyarakat telanjur memahami bahwa Prajnaparamita adalah Ken Dedes,” ujar Deni.

Dalam bukunya, sejarawan Agus Arismunandar menyebut bahwa setelah Gayatri meninggal dibuatkan arca Prajnaparamita dan disimpan di Prajnaparamitapuri di Bhayalangu (Boyolangu, Tulungangung).

Namun, kata Agus, Negarakertagama sebagai sumber utama sejarah Majapahit menyebut adanya kata yang dapat ditafsirkan ada dua Prajnaparamita. Artinya, selain di Boyolangu, ada juga Prajnaparamita di Singasari yang memunculkan tafsir bahwa arca di Singasari adalah perwujudan Ken Dedes, bukan Gayatri.(*)




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*