Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balika Kejayaan Majapahit
Replika arca Prajnaparamita gaya Jawa karya Biksu Ajahn Vimalo (Paul Hendrick) yang diduga penjelmaan sosok Gayatri. (luk.staff.ugm.ac.id).

Ketika Jayanegara tewas ditikam Ra Tanca pada tahun 1328, Gayatri menjadi satu-satunya pewaris yang paling berhak atas tahta Majapahit. Jayanagara meninggal tanpa memiliki keturunan, dan Gayatri adalah Rajapatni dari mendiang raja pertama Majapahir, Raden Wijaya (1293), sekaligus ibu tiri Jayanegara.

Kakak sulungnya, Tribhuwaneswari, adalah permaisuri tanpa dikaruniai anak. Gayatri dan dua kakaknya yang lain, Narendraduhita dan Jayendradewi, menjadi selir. Namun, gelar Rajapatni yang biasa diberikan pada prameswari atau permaisuri justru diberikan kepada Gayatri.

Ketika keturunan raja dari prameswari tidak ada yang mungkin dinobatkan, maka Rajapatni menjadi penerus tahta. Kalagemet, nama kecil dari Jayanegara, sendiri merupakan putra tunggal Raden Wijaya dan selir Dara Petak sehingga tak ada lagi keturunan yang menggantikan. Hanya Gayatri satu-satunya yang memiliki kesempatan. Namun, putri bungsu Kertanegara itu bergeming.

Pada akhirnya, Gayatri menolak. Wanita mulia itu memilih  menahan diri, dan menyerahkan tahta kepada putri tertuanya, Dyah Gitarja yang kemudian lebih dikenal dengan gelarnya, Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. Sosok yang pendiam ini menjadi pilihan karena tidak berada di pusaran konflik Singasari-Majapahit. Alasan lain tentu karena Tribhuana merupakan anak pertama Raden Wijaya.

Menjaga Perdamaian

Sejarawan asal Australia, Earl Drake, menggambarkan dengan menarik alasan penolakan Gayatri dalam bukunya, Gayatri : The Woman Behind The Glory of Majapahit. Sebagai putri bungsu Kertanegara, tulis Drake, Gayatri merasa tidak murni Majapahit. Darah Singasri warisan dari ayahnya mengalir kental dalam darahnya. Tahta diberikan kepada Tribhuwana Tunggadewi untuk mencegah kemungkinan bangkitnya orang-orang Singasari yang akan membahayakan Majapahit.

Ibu Suri itu lebih memilih menjaga perdamaian dan melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan luka masa lalu. Akhirnya ia menyerahkan tahta kepada Tribhuwana, anak pertamanya (halaman 105).

“Dia memilih untuk memenangkan keluhuran, bukan mengutamakan ambisi pribadi. Padahal kalau mau dia bisa saja menjadi raja. Alasan lain, saat itu  dia sudah memasuki masa bhiksuka –masa melapaskan masalah duniawi. Pantang bagi  seorang bhisuka masih menyimpan ambisi pribadi,” tambah Drake.

Dengan kearifannya sendiri, Gayatri lebih memilih menjadi  “sesepuh kerajaan” sambil terus memastikan bahwa Kerajaan Majapahit dijalankan oleh orang-orang yang tepat. Gayatri adalah think thank di balik kebijakan-kebijakan Tribhuana, termasuk ketika menobatkan dua menantunya Kertawardhana dan Wijayarajasa menjadi raja di keraton Tumapel dan Wengker yang merupakan bawahan Majapahit.

Kelak, perempuan agung itu juga membuat terobosan dengan menjadikan Gadjah Mada yang rakyat jelata sebagai Mahapatih menggantikan Mpu Krewes. Sebuah keputusan yang luar biasa karena masa itu para pembesar kerajaan, apalagi Mahapatih, selalu diambil dari bangsawan yang memiliki trah dengan raja. Gajah Mada adalah perkecualian.

Masa Gemilang Majapahit

Naiknya Tribhuwana Tunggadewi banyak diragukan kalangan kerajaan, juga rakyat Majapahit sendiri. Sebabnya tak lain karena dia seorang wanita.  Namun, rajaputri itu justru membuktikan menjadi pembuka Majapahit menuju masa gemilang.

Buku “Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya i Jawa” tulisan Purwadi (2007) menyebut bahwa Tribhuwana Tunggadewi berhasil meeletakkan dasar-dasar politik pemerintahan Majapahit (halaman 107).

Selain Gayatri, Patih Gajah Mada juga memiliki peran besar dalam dalam kesuksesan pemerintahan Tribhuwana. Pada era inlah Majapahit melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah Bali (1343). Tahun-tahun berikutnya, Majapahit mencaplok beberapa wilayah di Sumatera.

Pergolakan dei pergolakan sempat muncul di Majapahit. Beberapa daerah berusaha melepaskan diri, seperti Sadeng dan Keta. Namun, kedua daerah itu berhasil dipukul mundur pasukan Gajah Mada dan Adityawarman.

Gayatri dan Politik Majapahit

Gayatri Rajapatni,  Perempuan di Balika Kejayaan Majapahit
Hayamwuruk dan Gayatri Rajapatni/Wikipedia

Demi mencegah dan mengatasi pergolakan yang mulai bermunculan, Majapahit membutuhkan sosok yang mampu menjaga persatuan. Di sinilah peran Gayatri mengusulkan Gajah Mada untuk mengganti Mahapatih Mpu Krewes yang sudah tua. Pada 1334, Tribhuana Tunggadewi pun menobatkan Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi. Dalam upacara penobatan itulah lahir Sumpah Palapa yang terkenal itu. Majapahit benar-benar menuju masa gemilang.

Sang Ratu Gayatri wafat sebagai seorang biksuni Boddha pada 1350M. Sesuai amanat ibunya, rajaputrimenyerahkan tahta kepada putra mahkota, Hayam Wuruk yang ketika itu masih berusia 16 tahun. Tribhuwana Tunggadewi kemudian memilih mengawasi jalannya pemerintahan dengan menjadi anggota Saptaprabhu, dewan pertimbangan agung kerajaan.

Dyah Gayatri meninggalkan banyak peran untuk Majapahit. Kakawin Negarakertagama karya Mpu Prapanca menggambarkan betapa Bhatara Parama Bhagawati menjadi menjadi pelindung Majapahit. Sejumlah prasasti juga menulis bahwa Gayatri adalah pembimbing sang rajaputri Tribhuwanatungga Dewi dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dalam buku “Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (1996), Denys Lombard menyebut Gayatri dan dan putrinya sangat berperan penting dalam kehidupan politik Kerajaan Majapahit selama periode 1328-1350 (halaman 93).

Tugas pertama Hayam Wuruk sebagai raja adalah menyiapkan pembangunan candi pendharmaan untuk Rajapatni Gayatri. Candi itu dibangun di daerah Boyolangu (Tulungagung), dan ditetapkan sebagai tempat pendarmaan.

Negarakertagama mencatat pada tahun 1362 Hayam Wuruk menggelar upacara Sraddha mengenang 12 tahun wafatnya Ibu Suri. Sebuah arca penghormatan pun segera dibuat untuk mendiang Gayatri. Pradjnaparamita, demikian nama arca itu, yang artinya kesempurnaan dalam kebijaksanaan. (*)

 




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*