Contoh Tembang Macapat Sinom dan Artinya

oleh
macapat-sinom

Tembang macapat Sinom merupakan salah satu tembang macapat yang banyak berbicara tentang anak muda yang sedang mengalami pertumbuhan.

Dalam urutan tembang macapat, ini adalah tembang ketiga setelah tembang Macapat Mijil yang berarti terlahir.

Setelah bayi lahir ia menjadi seorang anak yang dalam perkembangannya akan menjadi seorang anak muda yang dinamis.

Dalam istilah konotasi bahasa Indonesia, orang yang masih muda belia sering dikatakan sebagai daun muda

Dalam bahasa jawa Sinom bisanya digunakan untuk menyebut daun asam yang masih muda.

Beberapa kalangan mengartikan Sinom sebagai si enom, isih enom (masih muda).

Meski berbeda-beda dalam mengartikan, namun pada prinsipnya tetap sama dalam mengintepretasikan kata Sinom yakni tentang sesuatu yang masih muda.

Sifat tembang ini adalah bersemangat, bijaksana dan sering digunakan untuk piwulang (mengajari) dan wewarah (membimbing)

Tembang macapat Sinom secara umum memang memberi gambaran tentang seseorang yang menginjak usia muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan hingga menjelang usia akil-balik ataupun dewasa.

Di usianya ini biasanya masih dalam proses pencarian identitas, selalu masih bertanya-tanya tentang “siapa aku”, sehingga tidak sedikit para remaja ini akan mencari sosok yang bisa menjadi panutan ataupun teladan bagi dirinya.

Dalam tradisi jawa, tembang banyak dimanfaatkan sebagi sebuah piwulang (ajaran) dan wewarah (mengajari), tak terkecuali tembang macapat sinom.

Ciri tembang macapat Sinom :

  1. Memiliki Guru Gatra : 9 baris setiap bait
  2. Memiliki Guru Wilangan : 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 (artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya…)
  3. Memiliki Guru Lagu : a, i, a, i, i, u, a, i, a (artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal t, dst..)

Contoh tembang :

sinom gadhung mlati

Setelah tembang macapat Sinom, tembang berikutnya adalah tembang macapat Kinanthi, yang berarti dituntun.

Tembang macapat lainnya dapat di lihat dalam artikel : 11 Jenis Tembang Macapat, Contoh Lirik dan Artinya

Salah satu tembang macapat sinom yang paling populer adalah karya KGPAA Mangkunegoro ke IV (1811-1882 M) yang terdapat dalam Serat Wedhatama, Pupuh Sinom, podo 15.

Tembang ini sering dikenal dengan nama Sinom Gadhung Melati.

Sinom Gadhung Melati

Nulada laku utama 
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi 
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesama
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)

Dalam pupuh Sinom ini dapat ditafsirkan bahwasanya beliau KGPAA Mangkunegoro ke IV mengajak pada generasi muda untuk meneladani sikap dan perilaku Raja Mataram yang bernama Panembahan Senopati.

Semasa hidupnya Panembahan Senopati merupakan orang yang memiliki kebiasaan mengolah diri dengan laku perihatin, meditasi dan bertapa.

Baca juga : Wedhatama, Ajaran Kebaikan dari Mangkunegoro IV)

Bagi orang jawa laku perihatin merupakan satu usaha dalam mengendalikan hawa nafsu, baik yang berupa nafsu amarah, nafsu dengan lawan jenis, nafsu untuk bersikap malas, maupun nafsu keserakahan dalam urusan makan dan tidur.

Hawa nafsu merupakan anugerah dari Tuhan YME agar digunakan oleh manusia sebagaimana mestinya. Hampir di semua agama tidak ada yang memerintahkan untuk menghilangkan hawa nafsu, namun pengendalian diri terhadap hawa nafsu adalah hal terpenting.

Dalam pupuh sinom di atas tersirat pesan, dengan berusaha semaksimal mungkin laku perihatin baik waktu siang dan malam, maka akan mampu menentramkan hati diri sendiri dan juga orang lain (sesama).

Orang-orang yang telah mampu mengendalikan diri dan mengontrol emosi dan nafsunya biasanya ia akan lebih mampu bersikap bijaksana. Kebijaksanaan inilah yang akan dapat menenteramkan.

Baca juga : Pepatah Jawa, Nasihat dan Ajaran dalam Bahasa Jawa

Tentang Penulis: Joko Narimo

Gambar Gravatar
Blogger kambuhan yang juga aktif mengelola perpustakaan Tumpi Readhouse, pernah sekolah seni dan desain, kadang menjadi pegiat fotografi dan film komunitas.

Responses (6)

  1. Bagus & inspiring
    bisa dipakai referensi (bagi orang jawa) seperti saya yang sudah tidak mudah mendapatkan tempat untuk bertanya/referen beberapa hal piwulang jawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.